Di tengah dunia yang serba cepat, serba digital, dan penuh notifikasi ini, ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput kita tanyakan: dari mana kita berasal, dan ke mana sebenarnya kita berpulang? Pertanyaan ini mungkin terdengar filosofis, bahkan terlalu berat untuk pagi hari. Tapi justru dari sanalah kisah Sunda Wiwitan bermula—pelan, sunyi, namun mengakar kuat seperti pohon tua di hutan Baduy.
Sunda Wiwitan bukan sekadar “kepercayaan lama”. Ia adalah napas hidup, cara berpikir, sekaligus laku sehari-hari masyarakat Sunda sejak ratusan tahun lalu. Dalam sastra sederhana, Sunda Wiwitan bisa dimaknai sebagai ajaran hidup orang Sunda sebelum datangnya agama-agama besar. Namun menyederhanakan seperti itu rasanya kurang adil. Ibarat pepatah Sunda, “ulah ningali gajah tina buntutna wungkul”—jangan menilai sesuatu dari satu sisi saja.
Apa Itu Sunda Wiwitan?
Secara etimologi, “wiwitan” berarti asal mula. Jadi Sunda Wiwitan adalah ajaran yang berakar pada asal-usul kehidupan orang Sunda. Keyakinan ini menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta—yang sering disebut Sang Hyang Kersa atau Nu Maha Kawasa.
Tidak ada kitab tebal berjilid-jilid. Tidak ada dogma yang dipaksakan. Yang ada adalah petuah leluhur, tradisi lisan, dan praktik hidup yang diwariskan turun-temurun. Mirip pepatah Minang: alam takambang jadi guru. Alam adalah kitab terbuka.
Menariknya, konsep ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, saat isu lingkungan, krisis moral, dan kelelahan mental jadi masalah global. Dunia modern baru ribut bicara sustainability, sementara Sunda Wiwitan sudah mempraktikkannya sejak dulu—tanpa seminar, tanpa hashtag.
Baduy dan Keteguhan Menjaga Ajaran
Jika bicara Sunda Wiwitan, nama Baduy hampir selalu muncul. Masyarakat Baduy Dalam dikenal sangat konsisten menjalankan sajaran ini. Mereka menolak listrik, teknologi modern, bahkan alas kaki, bukan karena anti-kemajuan, tapi karena ingin menjaga keseimbangan hidup.
Bagi mereka, hidup itu sakadar cukup, tidak perlu berlebihan. Pepatah Jawa bilang, urip iku mung mampir ngombe. Hidup itu singgah sebentar, jadi tak perlu serakah. Filosofi ini terasa “menampar” gaya hidup modern yang serba pamer dan kompetitif.
Namun jangan salah, Sunda Wiwitan bukan berarti menolak perubahan secara membabi buta. Banyak penganutnya di luar Baduy yang hidup modern, pakai smartphone, kerja kantoran, bahkan main saham. Bedanya, mereka tetap membawa nilai dasar: hormat pada alam, jujur pada diri sendiri, dan sadar batas.
Sunda Wiwitan dan Identitas Budaya
Di Indonesia, pembahasan tentang kepercayaan lokal sering kali sensitif. Sunda Wiwitan kerap disalahpahami, bahkan dianggap menyimpang oleh sebagian orang. Padahal, jika ditelaah dengan kepala dingin, ajaran ini lebih mirip fondasi budaya ketimbang agama formal.
Ia membentuk cara orang Sunda berbicara yang halus, menghargai orang tua, menjaga tata krama, dan hidup rukun. Silih asih, silih asah, silih asuh—saling mengasihi, mengajari, dan membimbing. Nilai universal, tidak eksklusif.
Dalam bahasa Inggris, konsep ini bisa disebut ancestral belief system atau indigenous wisdom. Di luar negeri, hal seperti ini justru dihargai dan dilestarikan. Ironisnya, di negeri sendiri sering dianggap “ketinggalan zaman”.
Relevansi Sunda Wiwitan di Era Digital
Mungkin ada yang bertanya, apa relevansi Sunda Wiwitan di era AI, crypto, dan metaverse? Jawabannya justru ada di kegelisahan zaman ini. Banyak orang merasa kosong, burnout, kehilangan makna hidup. Di titik inilah ajaran leluhur kembali dicari.
Sunda Wiwitan mengajarkan hidup selaras, tidak memaksa alam, dan tidak melampaui batas. Dalam konteks keuangan misalnya, konsep “cukup” ini bisa jadi penawar gaya hidup konsumtif. Dalam teknologi, ia mengingatkan bahwa teknologi adalah alat, bukan tuan.
Atau seperti kata orang Padang, indak ka pai balun, indak ka pulang pun balun. Jangan tergesa-gesa ke sana-sini, pahami dulu arah.
Antara Keyakinan dan Kebudayaan
Perdebatan soal apakah Sunda Wiwitan agama atau budaya mungkin tak akan pernah selesai. Tapi mungkin itu bukan pertanyaan terpenting. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai di dalamnya bisa hidup, memberi manfaat, dan tidak punah.
Di beberapa daerah, upacara adat, seren taun, dan ritual syukur masih dijalankan. Bukan untuk melawan zaman, tapi untuk mengingat asal. Karena manusia yang lupa asal-usulnya ibarat layang-layang putus—terbang tinggi tapi akhirnya jatuh tanpa arah.
Penutup: Pulang ke Akar, Melangkah ke Depan
Sunda Wiwitan mengajarkan satu hal yang sederhana namun dalam: hidup itu tentang keseimbangan. Antara lahir dan batin, antara ambisi dan rasa cukup, antara manusia dan alam. Di dunia yang makin bising, ajaran ini seperti suara pelan yang mengingatkan, “ulah poho ka diri sorangan.”
Mungkin kita tak harus menjadi penganutnya untuk belajar darinya. Cukup memahami, menghormati, dan mengambil hikmahnya. Karena seperti pepatah Sunda bilang, leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak. Jika alam rusak, air habis, manusia sendiri yang sengsara.
Dan di situlah Sunda Wiwitan berdiri—bukan di masa lalu, tapi di persimpangan masa depan. Mengajak kita pulang ke akar, tanpa takut melangkah ke depan.
