Fenomena Dogma Orang Sunda Malas yang Tidak Benar Stigma Lama, Pikiran Baru

“Orang Sunda mah santai, kurang ngegas.” Kalimat ini sering meluncur ringan, seolah fakta umum. Tapi sejak kapan generalisasi jadi kebenaran? Fenomena dogma orang Sunda malas yang tidak benar bukan sekadar salah paham; ia adalah narasi sosial yang diwariskan dari obrolan ke obrolan, dari lelucon ke lelucon, sampai akhirnya dianggap “ya memang begitu”. Padahal, ulah kagoda ku omongan, kudu ningali kana bukti. Kalau kita jujur, buktinya di mana?

Mari kita mulai dari ironi. Di satu sisi, orang Sunda kerap dicap malas. Di sisi lain, sawah-sawah terawat, pasar hidup sejak subuh, perantau bertebaran dari Jakarta sampai Kalimantan, pekerja kreatif mengisi ruang-ruang industri. Dua hal yang bertolak belakang. Yang mana yang mau kita percaya?

Dari Mana Dogma Itu Muncul?

Dogma lahir bukan dari riset, melainkan dari pengulangan. Sebuah stigma yang diulang terus—di warung kopi, di kolom komentar, di ruang kantor—lama-lama terdengar seperti kebenaran. Label “malas” pada orang Sunda sering bersumber dari pembacaan dangkal terhadap ritme hidup yang tenang. Tenang lalu disamakan dengan lamban. Lamban diterjemahkan sebagai malas. Selesai. Padahal, logika itu rapuh.

Sejarah sosial ikut bermain. Wilayah Sunda lama dikenal sebagai daerah agraris dengan kalender kerja yang mengikuti alam. Bertani itu bukan sprint, melainkan maraton. Ada masa tanam, ada masa tunggu, ada masa panen. Di sela menunggu, orang terlihat “santai”. Tapi santai bukan berarti tak bekerja; ia bagian dari siklus. Sakali aia gadang, sakali tapian barubah—perubahan ritme mengikuti keadaan. Apakah ini malas, atau justru adaptif?

Tenang Bukan Malas

Di sinilah kesalahpahaman terbesar terjadi. Dunia modern memuja hustle culture: kerja panjang, jam lembur, produktivitas diukur dari seberapa sibuk. Dalam kamus ini, ketenangan sering dicurigai. Orang Sunda, dengan nilai harmoni dan keseimbangan, kerap memilih jalan alon-alon asal kelakon. Bukan anti-kerja, tapi anti-berisik.

Ambil contoh petani di Priangan. Mereka bangun sebelum matahari tinggi, mengolah lahan, mengatur irigasi, menjaga panen. Ada jeda siang, ada obrolan sore. Apakah itu malas? Pedagang di pasar tradisional Bandung mulai aktivitas sejak subuh, menutup lapak ketika hari condong. Buruh pabrik berangkat pagi, pulang petang. Perantau Sunda mengadu nasib di kota-kota besar. Pekerja kreatif Sunda mengisi ruang desain, musik, teknologi. Bukti ada di mana-mana—asal mau melihat.

Stereotip dan Bias Cara Pandang Ekonomi

Masalahnya sering bukan pada orangnya, melainkan cara pandang ekonomi yang sempit. Kita menilai etos kerja dari satu model saja: cepat, agresif, kompetitif. Model lain dianggap kurang. Padahal, ada banyak work ethic. Dalam bahasa Inggris, mindset kerja tak selalu harus always-on. Ada kerja yang efektif tanpa gaduh. Ada produktivitas yang tak memerlukan pamer.

Bandingkan dengan stereotip suku lain—secara cerdas, tanpa merendahkan. Orang Jawa sering dilabeli sabar dan tekun; orang Minang dikenal merantau dan berdagang; orang Batak disebut vokal dan berani. Stereotip itu setengah benar, setengah malas berpikir. Sama halnya dengan orang Sunda. Kita lupa bahwa identitas budaya bukan template tunggal. Ia spektrum.

Modernitas, Jam Kerja, dan Burnout

Di era kapitalisme lanjut, jam kerja panjang sering disulap menjadi lencana kehormatan. Padahal, hasilnya tak selalu bahagia. Burnout merajalela. Ironinya, mereka yang memilih ritme lebih seimbang justru dicibir. Orang Sunda, dengan tradisi menjaga rasa cukup, kerap tampak “tidak ambisius” di mata sistem yang rakus target.

Mari jujur: berapa banyak dari kita yang kerja keras tapi kosong makna? Target tercapai, tapi kepala penuh. Gaji naik, tapi tidur berantakan. Dalam konteks ini, nilai-nilai ketenangan Sunda justru relevan. Bukan untuk menolak kerja, melainkan untuk menolak kerja yang menghisap hidup.

Dogma yang Menguap di Lapangan

Jika dogma “orang Sunda malas” benar, mengapa industri kreatif di Jawa Barat tumbuh? Mengapa UMKM hidup? Mengapa perantau Sunda bertahan di kota keras? Jawabannya sederhana: karena dogma itu tidak benar. Ia runtuh ketika diuji lapangan.

Ada yang bilang, “Tapi kok santai?” Santai bukan indikator malas. Santai bisa berarti efisien. Santai bisa berarti tahu batas. Santai bisa berarti menghargai hidup. Kita sering lupa membedakan tempo dan niat. Orang bisa bekerja dengan tempo tenang, tapi niat kuat. Hasilnya tetap jalan.

Mengkritik Narasi, Bukan Orangnya

Penting dicatat: kritik ini bukan pembelaan membabi buta. Ada orang malas di mana-mana—di Sunda, Jawa, Sumatra, bahkan di Silicon Valley. Yang dikritik adalah narasi yang menyamaratakan. Menyalahkan identitas adalah jalan pintas intelektual. Lebih mudah menempel label ketimbang membaca konteks.

Uluh-uluh stigma itu juga berbahaya. Ia menggerus kepercayaan diri generasi muda, mempengaruhi rekrutmen kerja, bahkan membentuk prasangka kebijakan. Ketika narasi salah dibiarkan, dampaknya nyata.

Satu Paragraf untuk Menampar (Halus)

Mari berhenti sejenak. Tarik napas. Tanyakan dengan jujur pada diri sendiri: “Jangan-jangan yang kita sebut malas selama ini hanyalah orang yang menolak hidup seperti kita?” Menolak lembur tanpa makna. Menolak sibuk tanpa arah. Menolak definisi sukses yang seragam. Jika iya, mungkin masalahnya bukan pada mereka, melainkan pada kacamata kita.

Penutup: Mengganti Label dengan Pemahaman

Akhirnya, fenomena dogma orang Sunda malas yang tidak benar mengajarkan satu hal penting: label cepat sering kalah dari kenyataan kompleks. Kita boleh berbeda ritme, tapi tujuan sama—hidup layak, bermakna, dan manusiawi. Di dunia yang gaduh, ketenangan bukan dosa. Di zaman yang letih, keseimbangan adalah keberanian.

Lalu mari kita jujur pada realitas yang sering kita lihat sendiri di layar dan lapangan: ketika publik menyaksikan figur-figur nasional yang kerap diasosiasikan sebagai orang Sunda – entah itu tokoh daerah yang dikenal turun langsung ke warga seperti Dedi Mulyadi, aparat penegak hukum di level tertinggi yang bekerja dalam senyap tapi berdampak, atau pejabat keuangan negara yang konsisten menjaga stabilitas di tengah tekanan global.

masihkah masuk akal menyebut “malas” sebagai kata kunci? Atau jangan-jangan kita selama ini keliru membaca gaya kerja yang tidak ribut sebagai tidak bekerja, ketegasan yang tenang sebagai kurang ambisi, dan konsistensi sunyi sebagai ketiadaan etos? Jika hasil nyata tetap lahir tanpa banyak teriak, barangkali masalahnya bukan pada mereka, melainkan pada kebiasaan kita yang terlalu memuja kebisingan sebagai satu-satunya tanda kerja keras.

Mari ganti stigma dengan data, prasangka dengan empati. Karena seperti pepatah Sunda, ulah ningali gajah tina buntutna wungkul. Jangan menilai keseluruhan dari potongan kecil. Jika kita mau jujur dan berpikir ulang, mungkin yang berubah bukan orang Sunda—melainkan cara kita memandang kerja, hidup, dan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *